Namanya Owen Limarta. Lahir dari keluarga Buddha dan dibesarkan di Batam Indonesia

Namanya Owen Limarta. Lahir dari keluarga Buddha dan dibesarkan di Batam Indonesia

Spread the love

Cobranews.id, BATAM, Sabtu 29 Agustus 2026 – Saat ia duduk di bangku kelas 3 SD, keluarganya memutuskan untuk memeluk iman Katolik. Sejak saat itu, ia mulai mengenal sosok yang kelak akan mengubah seluruh arah hidupnya: Bunda Maria.

Ada sesuatu yang begitu memikat hatinya dalam doa Rosario. Bukan sekadar rangkaian doa yang diulang-ulang, melainkan sebuah perjumpaan yang intim dengan Bunda Yesus sendiri.

Owen merasakan kelembutan dan kasih yang begitu dalam antara Maria dan Putranya, dan hatinya pun tertambat. Ia tersentuh begitu mendalam kepada Bunda Maria dan Yesus, sehingga satu keinginan pun berakar dalam jiwanya: ia ingin sepenuhnya menjadi milik mereka.

Sejak saat itu, panggilan untuk menjadi imam mulai bersemi, dan ia pun tidak pernah ragu lagi. Namun, perjalanan hidup membawanya jauh dari tanah kelahirannya, hingga ke Denver, Amerika Serikat.

Di sana ia kuliah di Colorado State University dan berhasil meraih gelar di bidang bisnis. Namun, panggilan Tuhan terus bergema di hatinya. Ia kemudian memutuskan menjalani pembinaan dan akhirnya ditahbiskan menjadi seorang imam Katolik.

Ketika ditanya tentang alasan memilih jalan imamat, Owen mengungkapkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: ia jatuh cinta pada kelembutan dan kasih Yesus serta Bunda Maria.

Bukan kekuasaan yang menariknya. Bukan kemewahan. Melainkan kelembutan serta kasih yang menyentuh hati dan mengubah kehidupan.

Dari keluarga Buddha di Batam, perjalanan Owen akhirnya membawanya menjadi imam Katolik di Amerika Serikat.

Proficiat Romo Owen. Semoga kisah hidup dan panggilanmu menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk tidak takut mendengarkan suara Tuhan. Sebab mungkin, di balik sebuah kerinduan kecil dalam hati, Tuhan sedang menyimpan sebuah panggilan besar.

Tuhan memanggil. Maria menuntun. Kristus menanti jawaban hati yang berani berkata: “Ya, Tuhanku dan Allahku.”

(Robin Silalahi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *